Appeal to Tradition

alasan 'dari dulu memang begini' bukan bukti kebenaran

Appeal to Tradition
I

Pernahkah teman-teman terjebak dalam sebuah perdebatan, lalu lawan bicara kita mengeluarkan kartu as mereka: "Ya mau gimana lagi, dari dulu memang sudah begini." Skakmat. Diskusi selesai. Entah itu perdebatan soal resep masakan keluarga yang tidak boleh diubah, aturan tak tertulis di kantor, sampai mitos pengobatan alternatif. Kalimat tersebut seolah menjadi perisai ajaib yang menghentikan semua logika. Tapi, mari kita renungkan sejenak. Apakah durasi sebuah kebiasaan otomatis menjadikannya sebuah kebenaran mutlak? Mengapa kita begitu mudah menyerah saat dihadapkan pada alasan usang tersebut?

II

Mari kita mundur ke masa lalu untuk melihat sejarah medis yang agak mengerikan. Selama lebih dari dua ribu tahun, para dokter terbaik di dunia percaya pada satu praktik yang terbukti mematikan: bloodletting atau terapi membuang darah pasien. Sakit demam? Buang darahnya. Sakit kepala? Buang darahnya. Bahkan presiden pertama Amerika Serikat, George Washington, kemungkinan besar meninggal karena dokter pribadinya membuang terlalu banyak darah saat beliau mengalami infeksi tenggorokan. Mengapa dokter-dokter pintar di zaman itu terus melakukan hal yang merusak? Jawabannya sederhana. Karena guru mereka, dan guru dari guru mereka, melakukannya. "Dari dulu memang begini." Di titik ini, kita bisa melihat betapa berbahayanya berlindung di balik tradisi tanpa pernah mempertanyakannya.

III

Jadi, mengapa otak kita begitu tunduk pada sesuatu yang berlabel "warisan" atau "masa lalu"? Apakah kita secara genetik memang didesain untuk malas berpikir keras? Di sinilah psikologi kognitif punya cerita yang sangat menarik. Di dunia sains, ada sebuah cacat logika yang sangat terkenal bernama appeal to tradition. Ini adalah kondisi ketika kita menyimpulkan bahwa sesuatu itu benar, baik, atau ideal, hanya karena hal itu berkaitan dengan tradisi masa lalu. Tapi tunggu dulu, evolusi tidak merancang kecacatan ini tanpa alasan. Ada sebuah mekanisme bertahan hidup yang tersembunyi, yang membuat kita secara refleks mempercayai nenek moyang kita. Pertanyaannya, apa yang sebenarnya terjadi di dalam sirkuit kepala kita saat mendengar kata "tradisi"?

IV

Rahasianya terletak pada upaya otak kita untuk menghemat energi. Otak manusia itu organ yang sangat boros kalori. Untuk mencegah kelelahan yang luar biasa, otak menciptakan jalan pintas mental yang disebut heuristics. Saat leluhur kita di zaman purba melihat bahwa memakan buah beri merah tertentu tidak membuat anggota sukunya mati, mereka menjadikannya aturan turun-temurun. Tradisi, pada masa itu, adalah data survival atau data bertahan hidup. Secara psikologis, mengikuti pola masa lalu memberikan kita perasaan cognitive ease atau kenyamanan berpikir. Sesuatu yang terasa akrab akan diproses oleh otak sebagai sesuatu yang aman dan benar. Jadi, saat kita mendengar argumen "dari dulu memang begini", pusat emosi di otak kita merasa tenang. Kita merasa tidak perlu membakar kalori ekstra untuk menganalisis data baru. Sayangnya, apa yang menyelamatkan kita di hutan purba, justru sering kali membuat kita buta terhadap fakta ilmiah di era modern yang kompleks.

V

Tentu saja, pemahaman ini bukan berarti kita harus membenci semua tradisi atau menganggap masa lalu itu buruk. Banyak kearifan lokal yang memang akhirnya terbukti secara ilmiah seiring berjalannya waktu. Tapi, sebagai manusia yang hidup di era modern, kita punya tanggung jawab pikiran yang lebih besar. Kita harus bisa memisahkan antara menghormati sejarah, dan kemalasan berpikir. Lain kali, jika teman-teman menghadapi argumen "dari dulu memang begitu", cobalah tersenyum kecil. Sadari bahwa kalimat itu bukanlah sebuah bukti kebenaran, melainkan hanya alarm dari otak yang sedang lelah dan mencari jalan pintas. Mari kita budayakan keberanian untuk bertanya: apakah hal ini masih relevan secara fakta? Karena peradaban tidak pernah maju oleh mereka yang hanya meniru masa lalu, melainkan oleh kita yang berani mendefinisikan ulang kebenaran untuk masa depan.